Postingan

Jangan Pernah Titipkan Harapan Pada Hujan

     Keyakinan untuk menebar dan menuai semakin kuat, sembari memupuk benih kasih sayang yang setia ini. Tidak heran, maka semakin banyak juga hama di luar sana berlalu lalang. Namun tidak kupermasalahkan sama sekali, cukup dilihat bukan untuk digertak agar semburat pergi.  Disini kembali kutekankan, bahwa benih yang sudah tertanam dan tumbuh itu bukan sekadar kiasan manis. Sungguh aku memeliharanya dengan penuh cinta, dengan untaian doa, serta harapan kita yang erat kuikat di ranting tertinggi agar mudah ditiupkan lirih oleh angin, diterima oleh langit, hingga turun kembali bersama hujan.      Satu persatu kuingat kembali, bagaimana awal mula aku mencoba tumbuhkan rasa percaya ini sepenuhnya kepadamu didalam hubungan kita. Terasa ringan sekali, karna selalu berdamai dengan semua yang terjadi. Sudah pasti tidak sempatlah aku untuk menelisik bahkan menganalisa kurangmu dimana dan kira-kira hal apa yang menjengkelkan dan memuakkan darimu, entah itu tenta...

Mas . . .

       Mas, tunjukkan padaku bahwa kamu benar-benar menyebalkan. Katakan padaku bahwa kamu yang memiliki hatiku, tanpa pengakuan ribuan manusia yang sibuk memantau hidupmu melalui akun sosial media yang penuh opini itu.     Yakinkan aku bahwa jarak kita bukan halangan untuk menanam rindu dan menuai saat kita bertemu saat kau pulang. Tak masalah jika kau tak pernah menyatakan cintamu seperti pelangi, namun sisa dari separuh waktumu saat ini lebih dari cukup untuk menemaniku.      Katakan padaku bahwa berkabar setiap hari via tatap muka secara virtual itu, hanya untuk mereka yang tidak punya kesibukan. Dan katamu,  yang lebih elegan adalah berbisik lirih disetiap sujud dan berharap pada Sang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang. Katakan sekali lagi padaku bahwa nongkrong di cafe mahal tidak asik, karna kau lebih suka riuh manusia lain disekelilingmu dan sesekali menatapku sambil mengatakan "manise sayangku". Katakan padaku bahwa ...

Semakin Rumit, Semakin Meresahkan

Aku percaya kehidupan ini akan selalu berjalan, selalu berganti keadaan, selalu ada keberadaan di titik terendah situasi dan kondisi. Duniaku, keseharianku, kesenanganku, semua yang kurasakan tentang bahagiaku selalu terikat, selalu berbatas dengan waktu. Lelah berkepanjangan, gelisah yang tak sudah-sudah, amarah yang sebisa mungkin dengan terpaksa harus ku redam. Belum lagi takdir yang menuliskan bahwa saat ini aku harus bertemu dengan manusia-manusia yang menggenggam dan menyimpan bara api di tangannya. Menyembur racun seiring tutur katanya.  Di satu sisi, prinsip untuk berlapang dada kujunjung tinggi demi rasa damai untuk hati dan pikiranku sendiri. Namun di sisi lain, emosi terus bergejolak. Lelah sekali berperang dengan diri sendiri. Ditambah lagi, orang-orang yang kucintai ternyata sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, hati mereka sedang tidak baik-baik saja. Hampa? JELAS Seperti hidup bersama jiwa-jiwa kosong. Aku tau dan percaya Tuhanku tidak akan tidur, Dia lebih tau...

Sunyi Rasa Riuh Aksara

     Ada satu rasa yang tiba ditengah kesunyian yang hampa. Masih sangat jelas teringat ketika awal kau ungkapkan bahwa akan ada banyak hal yang ingin kau lewati bersamaku.         Mulailah kau mengajakku melangkah sambil menuntunku perlahan, mataku terpaku pada satu cahaya harapan, hingga melihatmu berbicara aku tersipu, kau puji lupa amarahku, sampai akhirnya teralihkan semua yang telah kumiliki.      Hingga saat ini, gurauan-gurauan lampaumu masih akrab terngiang ditelinga bahkan sering terbesit di pikiranku. Masih ingatkah kau tentang ungkapan-ungkapanmu yang dengan senang hati kuterima saat itu? Manis sekali, ada yang menggelitik di pikiran dan hatiku. Mata ini berbinar, bibir ini tak mampu berucap namun tersampaikan melalui lengkung senyumku yang tepat berada di hadapanmu.     Adakah kesempatan untuk kita hidup dalam harmoni yang sama? Sementara aku si lemah yang selalu bergelut resah karna jarak, selalu ingin menyer...

Aku sisanya :)

Gambar
 

Bisakah Kusebut Itu Cinta (?)

      Lebih dari sekadar nyaman atau bahkan satu rasa penasaran. Buat apa jika kamu menyembunyikan perasaan dan menyesalinya kemudian. Dua hati yang tidak mungkin menyatu, lagu lama setiap insan yang terjerat ikatan ketidakpastian. Entah kamu yang tidak bersungguh-sungguh mecariku atau aku yang takut terluka lagi seperti yang tlah lalu. Menahan diri adalah tindakan yang tepat untukku saat itu, karna rasa takut pun masih setia mendampingiku yang ia tinggal pergi. Ya memang aku lemah, aku rapuh, aku selalu terjebak dalam masa pelampiasan. Tapi pernahkah kamu merasakan satu kehangatan yang ternyata juga nyaman dirasakan orang lain?        Rumit selalu menjadi kawan baikku, entah mengapa demikian. Jika boleh kuakui sebenarnya akupun sedang terikat satu ketidakpastian dengan hati seseorang yang entah dia akan menjagaku sampai kapan. Keraguan pun seiring menemani masa penantianku. Maaf jika kamu datang hanya kuberi ucapan selamat jalan. Legaku ketika ka...

- Argumentasi Dimensi -

     Bergeming sendiri aku akhir-akhir ini, dari argumen dalam diriku yang semakin kalut dan terpaparlah garis-garis di dahiku yang sedang berkerut. Apa yang lebih sunyi dari detak jantung yang terdengar setiap hentakannya? apa yang lebih sunyi  dari hembusan nafas yang terdengar jelas? dan apa yang lebih sunyi dari getaran nadi yang terasa berdenyut tenang dan larut pada pikiran yang mengajakku kembali ke masa itu. Manusia bukanlah harapan yang tepat. Hati yang mudah rapuh, dengan tanpa jeda mengajak isi kepala ini bekerja untuk menebak setiap perkataan, mencari sendiri makna hidup yang ternyata perlahan menjadi kelam.       Sejauh ini masihlah damai dengan realita yang semakin hari semakin penuh kejutan, meski terkemas dalam sesuatu yang menakutkan. Pilu dan terpuruk menemani dalam setiap hembusan nafas, setiap langkah, dan setiap detak jantungku. Apalagi yang harus kuperbuat? gaung emosiku semakin meraung. Tanpa sedikitpun kata dari mulutku unt...