Semakin Rumit, Semakin Meresahkan
Aku percaya kehidupan ini akan selalu berjalan, selalu berganti keadaan, selalu ada keberadaan di titik terendah situasi dan kondisi. Duniaku, keseharianku, kesenanganku, semua yang kurasakan tentang bahagiaku selalu terikat, selalu berbatas dengan waktu. Lelah berkepanjangan, gelisah yang tak sudah-sudah, amarah yang sebisa mungkin dengan terpaksa harus ku redam. Belum lagi takdir yang menuliskan bahwa saat ini aku harus bertemu dengan manusia-manusia yang menggenggam dan menyimpan bara api di tangannya. Menyembur racun seiring tutur katanya.
Di satu sisi, prinsip untuk berlapang dada kujunjung tinggi demi rasa damai untuk hati dan pikiranku sendiri. Namun di sisi lain, emosi terus bergejolak. Lelah sekali berperang dengan diri sendiri. Ditambah lagi, orang-orang yang kucintai ternyata sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, hati mereka sedang tidak baik-baik saja. Hampa? JELAS
Seperti hidup bersama jiwa-jiwa kosong. Aku tau dan percaya Tuhanku tidak akan tidur, Dia lebih tau perasaanku, bahkan mungkin MalaikatNya pun juga masih senantiasa mengiringi kegelisahan manusia-manusia sepertiku.
Tapi ini kehidupan. Harus kemana lagi aku pergi? Sudah merasa sendirian, sudah lelah menanggung beban, sudah pernah percaya dengan tulusnya hati manusia, namun Tuhan lebih sayang dengan sosok yang seharusnya saat ini menemaniku dan bisa kuajak berbicara tentang rumitnya dunia.
AKU SENDIRIAN
AKU KETAKUTAN
AKU LEMAH
AKU INGIN MENYERAH
Komentar
Posting Komentar