Bisakah Kusebut Itu Cinta (?)

     Lebih dari sekadar nyaman atau bahkan satu rasa penasaran. Buat apa jika kamu menyembunyikan perasaan dan menyesalinya kemudian. Dua hati yang tidak mungkin menyatu, lagu lama setiap insan yang terjerat ikatan ketidakpastian. Entah kamu yang tidak bersungguh-sungguh mecariku atau aku yang takut terluka lagi seperti yang tlah lalu. Menahan diri adalah tindakan yang tepat untukku saat itu, karna rasa takut pun masih setia mendampingiku yang ia tinggal pergi. Ya memang aku lemah, aku rapuh, aku selalu terjebak dalam masa pelampiasan. Tapi pernahkah kamu merasakan satu kehangatan yang ternyata juga nyaman dirasakan orang lain? 

     Rumit selalu menjadi kawan baikku, entah mengapa demikian. Jika boleh kuakui sebenarnya akupun sedang terikat satu ketidakpastian dengan hati seseorang yang entah dia akan menjagaku sampai kapan. Keraguan pun seiring menemani masa penantianku. Maaf jika kamu datang hanya kuberi ucapan selamat jalan. Legaku ketika kamu memilih untuk menjalani lagi kisah romansamu dengan dia. Sedangkan aku, kembali lagi menaruh harapan padanya yang pernah meninggalkanku, apakah aku terlihat tidak punya pendirian? Apakah menerimanya kembali merupakan satu kesalahanku selanjutnya? 

    Jika kau percaya pada cinta pertama, hal apapun pasti terjadi meski disertai risiko disampingmu. Situasi yang mengkhawatirkan, tanpa kepastian, tanpa kejelasan, dan samar-samar untuk dipertahankan namun tetap ingin membuktikan kesempatan yang kuberikan. Hingga pada satu waktu timbullah rasa percayanya padaku. Ia yang dulu meninggalkanku, mencampakkanku, kini begitu yakin bahwa kita akan menjadi dua hati yang menyatu dalam satu tujuan.

   Saat aku merasa hidupku sudah berjalan dengan baik, dan aku menemukan duniaku, kamu datang. Entah karena aku yang keliru telah membalas senyum sapamu, atau kau yang memang sengaja tak mau tau tentang duniaku saat ini. Mengapa kamu begitu menyesalinya? Bukankah dulu kau pernah menutup pintu hatimu rapat-rapat ketika aku sedang mencari kuncinya? Kau lebih memilih memelihara mawar berduri yang kau simpan sendiri. 

    Kini semakin tajam sudah duri mawar yang kau simpan, durinya menelusup jemarimu hingga kau tak tahan menahan rasa sakitnya. Aku yang telah menemukan duniaku, sengaja kau cari, sengaja kau beri kunci hati yang pernah kucari, dan mengatakan bahwa kau menyesal karena telah menutup rapat-rapat pintu hatimu demi mawar berduri yang kau pelihara. Apakah semua ini salahku? Apakah aku terlihat tidak punya pendirian? Inginku menunggu, namun apa salahnya aku menjemput kebahagiaanku sendiri. Mungkin saat itu kau memberikan satu harapan, yang ternyata tumbuh dengan tulus saat kau sedang menggenggam erat mawar berdurimu. Sedang aku yang masih mencari kunci hati terlampau merasa pupus melihatmu benar-benar menjaga mawar itu. Pantaskah aku menyebutnya itu cinta? 

    Pilihanku berakhir pada cinta pertamaku dulu. Dan kamu sang pemilik mawar yang hingga kini masih merawat lukamu sendiri, mungkin aku hanya bisa berharap yang terbaik untuk dirimu. Jika kamu merasa tersakiti, bukan lagi menjadi tugasku untuk sukarela menjadi penghibur atas kesedihanmu. Kau anggap aku kejam? Mungkin kamu harus mengingat kembali bagaimana aku berusaha menyelamatkanmu dari mawar berduri yang kau genggam erat saat itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mas . . .

- Fana -