Mas . . .

 

     Mas, tunjukkan padaku bahwa kamu benar-benar menyebalkan. Katakan padaku bahwa kamu yang memiliki hatiku, tanpa pengakuan ribuan manusia yang sibuk memantau hidupmu melalui akun sosial media yang penuh opini itu.

    Yakinkan aku bahwa jarak kita bukan halangan untuk menanam rindu dan menuai saat kita bertemu saat kau pulang. Tak masalah jika kau tak pernah menyatakan cintamu seperti pelangi, namun sisa dari separuh waktumu saat ini lebih dari cukup untuk menemaniku. 

    Katakan padaku bahwa berkabar setiap hari via tatap muka secara virtual itu, hanya untuk mereka yang tidak punya kesibukan. Dan katamu,  yang lebih elegan adalah berbisik lirih disetiap sujud dan berharap pada Sang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang. Katakan sekali lagi padaku bahwa nongkrong di cafe mahal tidak asik, karna kau lebih suka riuh manusia lain disekelilingmu dan sesekali menatapku sambil mengatakan "manise sayangku". Katakan padaku bahwa aku adalah perempuan paling menyebalkan karna sering mengganggu waktu istirahatmu dan sering ngambek saat kau pamit untuk istirahat. Katakan sekali lagi bahwa kau ingin aku menjadi wanita kuat yang mampu mengemban tanggung jawab serta menahan pahitnya kehidupan.

        Mas, sadarlah bahwa tak ada alasan dariku atas rasa kagum yang kumiliki padamu. Aku yakin bahwa hadirmu di hidupku saat ini memang benar untuk membasuh luka serta memperbaiki kekeliruanku yang seringkali kuabaikan. 

    Kini kumerasa beruntung karna ketika disampingmu, dunia seakan berpihak padaku. Tubuhku yang lemah bisa dengan mudah bersandar, pikiranku yang runyam perlahan terhempas. 

    Kali ini, dengan sungguh kuungkapkan melalui aksara yang entah kapan akan kau baca. Bahwa kau adalah isi pikiranku yang selama ini memenuhi kepalaku, kau mempunyai satu celah kosong dihatimu  yang saat ini ku isi, di dalam tubuhmu ada hati yang sangat ingin aku curi, di raut wajahmu terdapat jawaban atas segala letih dan amarahku.

    Lalu apa lagi yang kucari, jika Tuhan sudah mempertemukan aku denganmu untuk saling memberi persinggahan yang kau pun juga ternyata nyaman. Habis sudah untaian kata-kataku ini, tidak perlu kujabarkan seperti menjawab soal matematika lagi. Mas, terima kasih karna telah kembali, dengan rasa yakin dan rasa bahagia yang turut mengiringi. Semoga kau tidak hanya mempunyai rasa sayang. Semoga jika sudah saatnya tepat kau akan bersungguh-sungguh, sedangkan aku telah bertekad untuk menjaga cintamu agar tak sampai luruh.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

- Fana -