- Bilik Rindu -
Setelah kuingat lagi, ternyata tidak begitu lama terakhir kita berjumpa. Namun aku merasa itu sudah sangat lama. Padahal kau di sana juga tidak tinggal diam membiarkanku sepi tanpa bertukar kabar denganmu. Aku juga heran mengapa aku seperti ini kepadamu, aku sadar betapa lemahnya saat ingat keadaan kita, maksudku adalah jarak kita yang tak memungkinkan untuk selalu bertemu. Kau pernah bilang padaku bahwa aku harus kuat. Tahan sebisa mungkin rasa ingin bertemu denganmu, tumpuk sebanyak mungkin rindu untukmu, dan luapkan segala perasaan senang, sedih, dan gundahmu ketika kita bertemu. Ya, memang tidak akan mudah. Dan menurutku memang sulit selama ini untuk tidak mengungkapkan rasa rinduku padamu.
Tanpa kau tahu, dan akupun memang sengaja tak memberi tahu, sebenarnya aku sering pergi sendiri ke tempat yang kita anggap nyaman untuk saling berbincang hangat saat kau pulang dan bertemu denganku. Bukan karena aku kesepian, namun aku hanya ingin mengingat tentang apa yang pernah kita bicarakan disini, tentang bagaimana aku menatap kedua matamu yang menurutku banyak sekali hal yang ingin kau sampaikan padaku. Dengan mengingat senyum dan tawamu sembari menikmati matcha yang kupesan saat itu.
Perlahan tapi pasti, waktu memang terasa lama saat ditunggu dan terasa amat cepat setalah melampaui masa tunggu, saat bertemu denganmu misalnya. Entah apa yang terjadi denganku saat ini. Padahal sudah sesuai dengan yang pernah kau katakan padaku, kau tak henti-hentinya memberiku kabar disela-sela senggang waktu yang kau miliki dan saat egoku sedang tak terkendali, aku menganggapmu seolah kau tidak peduli denganku. Memanglah setiap orang mempunyai tanggapan berbeda dalam mengartikan rindu, tidak lain dan tidak bukan adalah aku.
Tanpa kau tahu, dan akupun memang sengaja tak memberi tahu, sebenarnya aku sering pergi sendiri ke tempat yang kita anggap nyaman untuk saling berbincang hangat saat kau pulang dan bertemu denganku. Bukan karena aku kesepian, namun aku hanya ingin mengingat tentang apa yang pernah kita bicarakan disini, tentang bagaimana aku menatap kedua matamu yang menurutku banyak sekali hal yang ingin kau sampaikan padaku. Dengan mengingat senyum dan tawamu sembari menikmati matcha yang kupesan saat itu.
Perlahan tapi pasti, waktu memang terasa lama saat ditunggu dan terasa amat cepat setalah melampaui masa tunggu, saat bertemu denganmu misalnya. Entah apa yang terjadi denganku saat ini. Padahal sudah sesuai dengan yang pernah kau katakan padaku, kau tak henti-hentinya memberiku kabar disela-sela senggang waktu yang kau miliki dan saat egoku sedang tak terkendali, aku menganggapmu seolah kau tidak peduli denganku. Memanglah setiap orang mempunyai tanggapan berbeda dalam mengartikan rindu, tidak lain dan tidak bukan adalah aku.
Kali ini mungkin sudah bisa kusebut sebagai kebiasaanmu yang selalu datang dengan tatapan mata penuh cerita yang membuatku semakin ingin berlama-lama ketika kita berada pada permulaan bincang hangat yang kau awali ketika kita duduk saling berhadapan. Sederhana memang, tapi bagiku ini berkesan dan sama sekali tidak membosankan hingga larut malam pun aku tidak keberatan. Asalkan masih dengan manisnya tutur katamu. Namun, jarak tetaplah jarak dan waktu tetaplah tidak selalu mau menunggu. Mungkin kalau otakku bisa menyampaikan apapun yang setiap hari kupikirkan, yang disebutkannya pertama kali adalah namamu. Karena disela aku memikirkan satu hal pasti masih saja sempat terbesit tentang kamu. Hey, ini bukan gombalan, tapi ini fakta yang aku sendiri hampir gila karena sulit sekali untuk memecahkan gelisahku yang sudah mencapai level terdahsyat ini.
Sudahlah sekarang aku merasa tak ingin semakin buang waktu, selalu ingin segera bertukar kabar denganmu, selalu ingin jumpa dan menyimak bincang hangatmu, selalu menanti senggang waktu kita, selalu rindu juga pastinya.
Komentar
Posting Komentar