- Good Bye -
Aku tahu, ini sebuah ketidaksengajaan yang pada dasarnya memanglah dibuat buat. Namaku kau eja dengan pelan dan kau tekankan saat mengucap huruf yang menjadi awalan namamu. Lucu, aku suka dan berusaha mengucapkannya juga dengan melihat ke arahmu dan saat itu pula aku merasa damai dengan mendengar riangnya tawamu. Secara tidak sengaja pun perlahan aku mulai larut dengan setiap ucapanmu. Hal biasa yang orang lain pun bisa meniru setiap kata-katamu, namun bagiku ini berbeda. Sungguh berbeda, jika kau yang mengatakannya. Ini bukanlah untaian kata manis yang mampu membuat jantung berdebar ketika otakku ini mencerna kata-katamu. Namun lagi-lagi aku sungguh merasakan kedamaian saat menatap senyummu.
Itu dulu.
Semesta kembali mempertemukan kita, dalam satu ingatan yang sama, dalam riwayat yang tetap terjaga, dan masih dengan senyum yang sama. Aku tahu, saat ini aku terlalu tergesa karena telah menerimanya kembali. Nyatanya dia hanya damaiku dalam sesaat, namun aku sudah terlanjur menuai harap dalam hati. Perihal seseorang yang lama telah hilang, aku percaya bahwa dia akan kembali padaku dengan satu penyesalan meski hanya sedikit kisaran prosentase yang terhitung. Sebenarnya aku ingin memperbaiki satu kesalahan yang ku buat saat itu, namun rasanya masih tetap sama. Kau tidak berpikir dewasa seperti yang ku kira. Kau tetaplah damaiku yang kukenal dulu. Kau masih mengedepankan egomu, kau masih tidak yakin akan adanya rindu, kau masih tidak bisa menerima yang telah ku ungkap. Sungguh, saat ini aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan menunggu kehadiranmu untuk pulang, aku tidak akan lagi menunggu kabar darimu, aku sudah muak dengan apapun tentangmu. Terima kasih telah membuatku bahagia beberapa bulan belakangan ini.
Aku menyerah, tetaplah menjadi senyum damai. Namun tidak membawa luka menganga untuk yang lain.
Komentar
Posting Komentar